Breaking News

Makalah Pentingnya Peran Sabar di Kalangan Remaja



Menurut Imam Al-Ghazali, sabar adalah meninggalkan segala macam pekerjaan yang digerakkan hawa nafsu, dan tetap pada menegakkan agama meskipun bertentangan dengan kehendak hawa nafsu, semuanya karena mengharapkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat.

Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan. Kaitan antara sabar dengan iman adalah seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah. Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah.

Demikian beratnya melaksanakan sabar sehingga menjadi sifat istimewa yang hanya sanggup dikerjakan bagi orang-orang yang khusyu’. Orang yang khusyu’ itulah yang benar-benar mempunyai keyakinan yang kuat, niat yang ikhlas, itikad baik, tujuan yang benar dan dengan penuh kesabaran mereka mentaati peraturan agama baik perintah maupun larangan.

Bersabar bukan hanya dilakukan ketika kita mengalami kesusahan dan bencana namun lebih dari itu kita mestilah sabar dalam ketaatan terhadap perintah agama. Misalnya dalam melaksanakan ibadah shalat, puasa, zakat dan haji sangat memerlukan kesabaran.

Maka dari itu, dalam makalah ini kami akan membahas sekilas sehingga kita dapat mengetahui bagaimana sabar yang sebenarnya.

Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian sabar ?
2. Apa-apa saja macam-macam sabar ?
3. Apa-apa saja keutamaan sabar ?
4. Bagaimanakah cara bersabar ?
5. Bagaimanakah peran sabar terhadap remaja ?


Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun yang menjadi tujuan penulisan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian sabar.
2. Untuk mengetahui macam-macam sabar.
3. Untuk mengetahui keutamaan sabar.
4. Untuk mengetahui cara bersabar.
5. Untuk mengetahui peran sabar terhadap remaja.

PERAN SABAR DI KALANGAN REMAJA

A. Pengertian Sabar
Secara bahasa: Berasal dari kata “صبَر - يصبِر yang artinya menahan. Secara istilah: Menahan diri dari kesusahan dan menjaga lisan dari celaan, serta menahan anggota badan dari berbuat dosa.

Definisi sabar menurut sufi ternama Dzun-nun Al-Mishri yaitu menjauhi perselisihan, bersikap tenang dalam menghadapi cobaan yang menyesakkan hati, dan menampakkan rasa kecukupan ketika ditimpa kesusahan dalam kehidupan.

Sedikit berbeda dengan Ar-Raghib Al-Ashfahani, yang mengatakan bahwa sabar memiliki makna yang berbeda sesuai dengan konteks kejadiannya. Menahan diri saat ditimpa musibah dinamakan shabr (sabar), sedangkan lawan katanya jaza’ (gelisah, cemas, risau), menahan diri dalam peperangan dinamakan syaja’ah (keberanian) dan lawan katanya jubn (pengecut, lari dari peperangan), menahan diri dari kata-kata kasar disebut kitman (diam) dan lawan katanya ihdzar/ hadzar (mengecam, marah). Namun secara umum, semua yang berkaitan dengan menahan biasanya dikategorikan sabar.

Sabar ini tidak hanya identik dengan cobaan saja. Karena menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan atau menahan diri dari pemborosan harta bagi yang mampu juga merupakan bagian dari sabar. Bukan hanya ketika kita dalam kesulitan, tapi ketika dalam kemudahaan dan kesenangan. [1]

Sabar merupakan bentuk pengendalian diri atau kemampuan menghadapi rintangan, kesulitan menerima musibah dengan ikhlas dan dapat menahan marah, titik berat nurani (hati). Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh .” [2]

B. Macam-Macam Sabar
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih, sabar itu terbagi menjadi 3 macam, yaitu sebagai berikut :

1. ‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌‌Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT
Menahan diri kita agar tetap istiqomah dalam menjalankan apa yang diperintahkan Allah SWT. Sebagaimana yang telah Allah janjikan yaitu surga bagi hamba-Nya yang menjalankan perintah-Nya dengan baik sesuai syariat yang telah Allah SWT turunkan. Mulai dari shalat, zakat, puasa, dakwah, dan lain-lain. Itu semua harus kita jalani dengan sabar.

2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah SWT
Salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Raja Dangdut H. Rhoma Irama di mana ada sebagian liriknya yang berbunyi “ mengapa semua yang asik-asik, itu diharamkan? mengapa semua yang enak-enak itu dilarang?”. Karena semua itu adalah memang godaan setan yang merayu kita dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Semua kenikmatan itu mengarahkan kita ke tempat terburuk yaitu jalan yang ditunjukan oleh setan menuju neraka. Dan kita sebagai umat Islam harus bersabar dari apa yang dilarang oleh Allah SWT. Yakinlah bahwa semua larangan itu pasti ada maksudnya. Tidaklah Allah SWT melarang kita untuk berbuat dosa, kecuali dalam dosa itu pasti ada sebuah kerugian yang akan didapat jika kita melakukannya.

3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah SWT
Jika ada salah satu dari kita ditakdirkan dengan kondisi fisik yang kurang, maka kita juga harus tetap bersabar. Karena bersabar dengan ketentuan Allah SWT merupakan salah satu dari macam sabar. Dan balasan lain dari sabar kita itu adalah surga. Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah SWT berfirman
“Jika hambaku diuji dengan kedua matanya dan dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya dengan surga” (HR. Bukhori). [3]

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang sabar dalam menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan dari apa yang telah ditakdirkan-Nya. Dan kita harus tetap melatih sifat sabar ini dalam kehidupan kita sehingga nantinya kita akan dapat menyikapi semua aspek hidup ini dengan sabar.

C. Keutamaan Sabar
Imam Ahmad menyebutkan bahwa kata sabar disebutkan oleh Allah pada 90 tempat dalam Al-Qur'an yang diikuti dengan keterangan-keterangan tentang berbagai kemuliaan dan derajat yang tinggi, serta menjadikan kemuliaan dan derajat yang tinggi ini sebagai buahnya. Di antaranya:

1. Allah telah memuji orang-orang yang sabar dan mejanjikan bagi mereka pahala yang tidak terputus.

Artinya : " Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. " (QS. Az-Zumar: 10)

2. Allah senantiasa menyertai mereka dengan hidayah, pertolongan, dan kemenangan yang dekat.

" Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. " (QS. Al-Baqarah: 153)

3. Allah mencintai mereka.

Artinya :" Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. " (QS. Ali Imran: 146)

4. Allah menjadikan syarat kepemimpinan dalam agama harus memiliki sifat sabar dan yakin.

Artinya : " Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. " (QS. As-Sajdah: 24)

5. Dengan sabar dan takwa musuh tidak akan mampu mengalahkan umat Islam sekuat apapun mereka. Sedangkan tipu daya mereka tidak lah berguna atas orang-orang yang penyabar.

Artinya :" Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. " (QS. Ali Imran: 120)

6. Mendapatkan kecintaan Allah karena Allah mencintai orang-orang yang sabar.

Artinya : “Allah menyukai orang-orang yang sabar” (QS: Ali Imran ayat 146) [4]

D. Cara Bersabar
Ada beberapa hal penting yang dapat membantu kita untuk bersabar, di antaranya adalah:
1. Menganggap bahwa dunia ini hina dan remeh. Maksudnya percaya bahwa setelah di dunia akan ada kehidupan yang lebih abadi (akhirat), dan yakin bahwa setiap masalah pasti ada penyelesaiannya.
2. Sadarilah bahwa kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali dan selalu mengingat akan hal ini di dalam hati. Maksudnya, kita ini hanya makhluk biasa yang dimiliki oleh Allah yang tak ada gunanya untuk menyombongkan diri, karena suatu saat nanti kita akan diminta pertanggungjawaban.
3. Ketahuilah bahwa tidak ada balasan yang sepadan untuk sabar selain surga.
4. Kita senantiasa yakin bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Karena Allah tidak mungkin menguji suatu kaum di luar kemampuan kaum itu sendiri.
5. Tidak berputus asa dan tidak menyerah atas ujian yang Allah berikan, sebagaimana firman-Nya dalam surat Yusuf ayat 87 :

Artinya : “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”


Dari ayat di atas juga disebutkan bahwa orang yang berputus asa adalah termasuk orang kafir.

6. Selektif dalam mencari teman. Kesabaran seseorang dilihat dari sifat temannya. Kenapa? Karena teman menggambarkan kepribadian teman yang satunya. Meskipun stamina keimanan kita terasa sudah mantap, tetapi jika kita bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, hal tersebut akan mengembalikan kondisi kita ke titik permulaan atau bisa jadi ke titik yang paling rendah. Pernyataan ini sesuai sabda Nabi SAW :

“Agama seseorang serupa/diukur dengan agama (kondisi) temannya. Hendaknya setiap kamu memperhatikan siapa temannya.” (HR. al-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Jadi sifat sabar kita dapat dilihat dengan siapa kita berteman sesuai dengan hadist dari Nabi kita. Wahai kaum remaja, marilah kita bergaul dengan orang-orang yang membawa kepada hal positif. Marilah kita bentuk diri kita menjadi orang-orang yang bersabar atas ujian, perintah, dan larangan Allah. Tentunya tidak akan semudah kita membalikkan telapak tangan. Tapi dengan niat, doa dan usaha, pasti kita bisa melakukannya, yaitu menjadi orang-orang yang sabar di mata Allah SWT. [5]

Janganlah kita terhanyut dalam masalah yang Allah berikan. Suatu masalah itu jika menyempit, maka tabiatnya ia akan meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar. Itulah sunah kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yang pasti terjadi. Maka relakanlah jiwamu untuk meridhakan di sisinya. Karena setelah kehausan pasti ada air. Setelah musim semi akan ada musim penghujan. Pada intinya, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Tapi harus dengan kuncinya, yaitu doa usaha dan terus bersabar.

E. Peran Sabar Terhadap Remaja
Sebagai remaja muslim, sabar adalah salah satu sifat yang harus kita miliki. Melihat fenomena yang terjadi saat, sungguh betapa banyaknya kejadian yang terjadi yang menuntut kita untuk selalu bersabar. Pada usia yang tergolong muda, para remaja tentulah sangat haus akan arus kehidupan dan zaman. Semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang pula teknologi, tingkah, serta moral manusia. Oleh karena itu, para remaja harus bisa bersikap sabar dalam beberapa hal, di antaranya :

1. Sabar Mengendalikan Hawa Nafsu
Hawa nafsu merupakan kendaraan bagi kita. Jika kita tidak bisa mengendalikannya, maka jatuhlah kita pada jurang-jurang penyesalan. Kita tak mungkin menghilangkan hawa nafsu dalam diri kita, karena hawa nafsu adalah bagian dari diri kita. Tapi setidaknya, kita harus bisa mengendalikannya. Sabar adalah salah satu cara untuk mengendalikannya. Coba kita renungkan, bagaimana jadinya bila hidup ini tanpa sifat sabar? Sesungguhnya, di zaman sekarang kebanyakan pergaulan remaja sudah tak terkontrol. Mereka bebas melakukan apapun. Misalnya pacaran. Itu karena mereka tak sabar memenuhi keinginan mereka. Padahal pacaran tak ada gunanya. Bukankah Allah SWT telah menciptakan setiap insan berpasang-pasangan? Saat remaja mendapat hasil belajar yang jelek/tidak lulus, mereka tidak bersabar. Mereka mengambil jalan yang salah seperti bunuh diri dan sebagainya. Padahal itu salah mereka sendiri, karena tidak mau belajar. Seharusnya mereka bersabar dan berpikir secara rasional, bahwa kegagalan bukan akhir segalanya.

Di zaman modern ini, pergaulan remaja sudah tak mengenal batas. Mereka membiarkan kendaraannya/hawa nafsunya membawa mereka ke manapun tanpa mereka rem saat kendaraannya itu berbelok ke jalan yang salah. Mereka membiarkannya hanya karena kenikmatan duniawi yang sesaat. Kebanyakan dari mereka tak memikirkan masa depannya. Padahal di dunia ini kita hanya sementara. Dunia ini diibaratkan tempat persinggahan, sebelum kita menuju akhirat yang abadi. Penjelasan ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang penulis temukan dalam buku Mari Bersabar karya Amru Khalid. Beliau bersabda: “Apalah artinya dunia ini bagiku. Di dunia ini aku hanyalah seorang musafir yang bernaung di bawah pohon. Lalu dia beristirahat dan kemudian dia meninggalkannya” .
Allah SWT jelas memerintahkan hambanya agar bisa mengendalikan hawa nafsu, sebagaimana firman-Nya dalam Qs. An-Naziat ayat 37-41:

Artinya : “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”


Dari ayat di atas, sudah jelas bahwa Allah SWT tidak suka pada orang yang tidak mengendalikan hawa nafsunya, karena jika kita menuruti hawa nafsu, kita lebih banyak mendapat madharatnya dari pada manfaatnya. Dan karena itulah Allah SWT menyediakan neraka untuk orang yang tidak mengendalikan hawa nafsunya.


Syeikh Mustafa as-Siba’i berkata: “Apabila jiwamu mengajak bermaksiat, maka segeralah mengingat Allah. Apabila hati ini belum bisa kembali, maka ingatlah akhlak para ulama dan ingatlah seandainya aib itu diketahui orang lain. Dan jika belum kembali, maka ketahuilah sesungguhnya dirimu saat itu telah berubah menjadi hewan”.

Berubah menjadi hewan di sini maksudnya bukan berubah wujudnya, tetapi berubah dalam artian ia tidak punya akal (tidak menggunakan akalnya). Hewan tidak punya akal. Apabila manusia yang mempunyai akal tapi tidak mempergunakan akalnya untuk mengendalikan hawa nafsu, berarti benar apa yang dikatakan Syeikh Mustafa as-Siba’i, bahwa manusia tak ada bedanya dengan hewan.

Kita harus sadar, bahwa selamanya ketika perdebatan, manipulasi pikiran, kontradiksi teori dan tabrakan dogma-dogma dalam pola pikir manusia terus berlangsung, maka jalan menuju insan yang sabar itu tidak mudah untuk ditempuh. Dengan kata lain, akan tersedia banyak tantangan dan godaan.
Saat hawa nafsu mulai mencengkrama diri kita, maka berpikirlah dua kali. Jangan tergesa-gesa karena sikap tergesa-gesa merupakan perilaku setan. Setan akan terus menggoda kita sampai kita masuk perangkapnya. Dan kita harus sadar, bahwa setan itu musuh kita, sebagaimana firman Allah SWT QS. Fathir ayat 6 :

Artinya : “Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Jadi, apabila kita mengikuti perintah setan, maka kita termasuk golongannya dan bersiaplah untuk menempati neraka yang menyala-nyala.

2. Sabar Ketika Menuntut Ilmu
Tak sedikit remaja zaman sekarang yang tak mau belajar atau yang belajar tapi tidak memaknai kata belajar itu dengan sesungguhnya. Mereka lebih akan rela jika waktu belajar digunakan untuk bermain dari pada waktu bermain digunakan untuk belajar. Padahal, menuntut ilmu adalah suatu kewajiban untuk setiap umat. Pada zaman modern ini banyak fakta membuktikan bahwa remaja yang masih diberi kemampuan untuk sekolah dengan sungguh-sungguh, mereka hanya bersekolah saja tanpa ada kesungguhan dan ada juga pelajar yang hidup di lingkungan pondok. Ujian dan cobaan untuk setiap insan yang menuntut ilmu pasti akan terus berlanjut sampai kapanpun itu. Misalnya, ujian dan cobaan di pondok, berupa tidak betah, belum mendapat kiriman uang, masalah teman dan sebagainya. Jika ujian ini tidak diantisipasi dengan sikap sabar, maka ilmu yang ada di pondok tak akan pernah kita dapatkan. Tapi, jika hal tersebut diantisipasi dengan berusaha dan bersabar, kita semua bisa menjalaninya. Saat menuntut ilmu kita harus sadar bahwa Allah akan terus menguji kita. Dan andai saja kita bisa melewatinya, maka kita akan bisa melewati yang lainnya. Anggaplah itu cobaan paling kecil dan masih akan ada cobaan yang lebih besar dari yang kita hadapi sekarang ini.

Dan setelah kita mendapatkan ilmu janganlah bangga. Kenapa? Karena kita belum selesai dalam menghadapi ujian. Jangan kira hanya saat mencari ilmu saja kita mendapat ujian. Tapi sesungguhnya, setelah memperoleh ilmu itupun kita masih diuji oleh Allah. Jangan pula disangka seseorang yang berilmu sudah otomatis terlindungi dari kebodohan dan terlepas dari godaan. Meskipun orang berilmu berada di tingkatan yang lebih tinggi daripada makhluk-makhluk lain, ia juga tetap menghadapi godaan yang tidak kalah besar. Bahkan godaan orang yang berilmu jauh lebih besar dibandingkan godaan orang-orang selainnya. Begitu pula dalam akibatnya. Bila ia berhasil, maka jadilah ia seorang yang paling takut (dekat) di sisi Allah. Firman-Nya:

Artinya : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Qs. al-Fathir: 28).

Sebaliknya, ketika ia gagal dalam menghadapi godaan, maka ia hanya menjadi penyebab kerusakan di muka bumi. Dia jugalah yang disinyalir oleh Rasulullah Saw sebagai manusia selain Dajjal lebih ditakuti karena sangat halus geraknya daripada Dajjal itu sendiri. Rasul SAW ditanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah? Mereka adalah ulama-ulama yang jahat (‘ ulama’ as-su’).” (HR. Muslim).”

Bagi orang yang berilmu, mempunyai ilmu bukanlah suatu kebanggaan tersendiri, karena menurut mereka ilmu itu adalah ujian, sebagaimana firman Allah :

“......Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanya karena kepintaranku. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (Qs al-Zumar: 49).

3. Bersabar Menghadapi Kemajuan Teknologi
Di zaman modern ini, yang namanya teknologi bukanlah hal yang sulit untuk kita jumpai. Di setiap penjuru wilayah, virus teknologi sudah tersebar. Kita sadar bahwa peran teknologi sangatlah penting untuk kehidupan kita. Dan akan sangat berbahaya apabila kita terjerumus ke dalamnya. Maksudnya kita diatur oleh teknologi, bukan kita yang mengatur teknologi.

Di dalam media massa, sebenarnya banyak hal positif yang bisa diambil, dan tidak sedikit pula hal negatif yang biasanya malah dicari oleh kaum remaja. Contohnya yang saat ini populer seperti facebook. Facebook sebenarnya bisa kita gunakan untuk hal yang lebih manfaat seperti membuat status yang ada hikmahnya (memotivasi, bermakna, dll). Pada faktanya, facebook malah digunakan untuk membuat status yang super galau, yang kata zaman anak sekarang yaitu galau tingkat dewa.

Betapa berbahaya kondisi media masa di negeri kita. Banyak sekali potensi dan harta yang dipersembahkan hanya untuk membangkitkan syahwat, mengumbarkan fitnah dan menyebarluaskan kehinaan. Dan faktanya, remaja zaman sekarang lebih memilih jalan yang salah, padahal pilihan ada di tangan kita. Dan Allah telah memberikan jalan yang baik dan jalan yang buruk. Allah juga telah menerangkan jalan petunjuk dan jalan kesesatan. Allah SWT berfirman :

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. al-Balad ayat 10).

Maksud dari dua jalan dalam surat ini adalah jalan kebaikan dan kedamaian, serta jalan keburukan dan kerusakan. Dalam ayat inipun kita sudah dapat melihat, betapa Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah hingga jalan hidup inipun Allah memberi pilihan kepada umatnya. Subhanallah! Dengan kemajuan teknologi, apakah kita akan membiarkan diri kita terbawa arus negatif ?

Coba kita renungkan dengan seksama. Jika masa muda berakhir, sementara kita jauh dari Allah, larut dalam kemaksiatan dan dosa, lalai dalam hidup dan tidak mempunyai tujuan yang jelas dan target yang besar, setelah itu berakhir, maka siapa lagi yang akan mengembalikan masa “emas” (muda) ini dalam hidup kita ? Siapa yang akan mengembalikan sepertiga atau setengah kurang lebih dari usia kita ? Sementara di antara sunnah (aturan) Allah yang berlaku di muka bumi, bahwasanya segala sesuatu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Lalu mengapa kita tidak memanfaatkan setiap detik dalam hidup dan setiap saat yang berlalu dalam hidup anda di muka bumi ini ?

Dari pernyataan di atas sudah jelas, jika waktu kita dipergunakan untuk hal-hal yang tidak berguna, maka jadilah kita orang yang merugi. Andai saja kita berpikir secara rasional dan sabar atas segala masalah, maka kita tidak akan mengadu pada teknologi (FB, twitter, sms, dll). Kita seharusnya sadar bahwa hanya Allahlah yang setiap saat ada bersama kita, Allahlah yang siap mendengarkan keluhan/curahan hati kita setiap jam, menit bahkan detik. Dan andai saja kita bisa menggunakan teknologi itu dengan semestinya, pasti kita bukan menjadi orang yang merugi, tapi malah kita bisa menjadi orang yang bahagia entah itu karena bermanfaat untuk orang lain dan sebagainya. [6]

Wallahu A’lam Bishshawwab.....

PENUTUP

A. Kesimpulan
Inilah sekilas sketsa mengenai kesabaran. Pada intinya, bahwa sabar merupakan salah satu sifat dan karakter orang mu’min, yang sesungguhnya sifat ini dapat dimiliki oleh setiap insan. Karena pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk mengembangkan sikap sabar ini dalam hidupnya.

Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau identik dengan keterdzaliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh karena itulah, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha di jalan-Nya.

B. Saran
Dalam penulisan makalah ini terdapat berbagai kekurangan dan kesalahan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran supaya makalah ini bisa lebih sempurna di kemudian harinya. Karena penulis hanyalah seorang santri biasa yang sedang belajar.

Selain itu penulis juga mengharapkan kepada pembaca agar tetap dan terus mempelajari hal-hal yang berkenaan dengan sabar. Karena dengan sabar inilah yang bisa menjadi penenang jiwa dan hati seseorang. Jika manusia tidak mempunyai sifat sabar, tentulah dunia ini akan hancur karena ketidakpuasan mereka.

Dengan demikian, semoga dengan adanya makalah ini bisa sedikit bermanfaat dalam kehidupan kita.


[1] Yuddy Effendy, Sabar dan Syukur (Jakarta : Redaksi Qultum Media, 2013), hal. 6
[2] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Fawa’id. hal. 95.
[3] Ahmad Farid, Hidup Mudah Bebas Masalah dengan Taqwa (Semarang : Inas Media, 2008), hal. 71-72.
[4] Ahmad Hidayat, Dahsyatnya Sabar (Jakarta : Alita Aksara Media, 2010) hal. 7
[5] Syeikh Imaduddin al-Khudasly, Tiada Musibah Tanpa Hikmah (Jakarta: Pustaka Group, 2009), hal. 58-59
[6] Raghib as-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman (Solo: Aqwam, 2013) hal. 86.

1 comment: